1. Sebutkan budaya-budaya yang berlaku
di dalam masyarakat!
Jawab
:
Kebudayaan
merupakan kebiasaan manusia yang secara tidak langsung sudah menjadi bagian
dari kehidupan sehari-hari. Kebudayaan juga seringkali dikaitkan dengan mitos
yang dilakukan oleh orang-orang jaman dahulu yang dibawa sampai ke generasi
sekarang. Pengertian mitos menurut beberapa sumber yaitu sebuah cerita atau
dongeng berlatar masa lampau. Mitos juga merupakan suatu perumpamaan yang
merupakan khayalan dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Penutur mitos
terlebih dahulu telah mendengar cerita dari generasi sebelumnya.
Karena
hal itu sudah terbiasa maka terciptalah kebudayaan yang mengakar, seperti di lingkungan
tempat saya tinggal terdapat beberapa budaya yang mengakar, diantaranya:
· Bersalaman
dengan orang tua atau orang yang lebih tua disaat kita bertemu.
Kebudayaan semacam ini masih terus mengakar dilingkungan saya. Dinilai sopan
dan santun ketika bertemu dengan orang yang lebih tua lalu kita mencium
tangannya.
· Membungkukkan
badan ketika melewati orang yang lebih tua. Hal ini juga
menunjukkan nilai sopan santun kepada orang tua atau orang yang lebih tua dari
kita.
·
Larangan
keluar rumah disaat maghrib tiba. Kebudayaan semacam ini
masih dipatuhi oleh masyarakat disekitar lingkungan saya termasuk di keluarga
saya. Dimana ketika adzan tiba semua orang masuk ke dalam rumah dan tidak ada
lagi yang berkeliaran di luar rumah. Semua aktifitas mereka diberhentikan
karena harus melaksanakan sholat maghrib. Bahkan ada yang mengatakan jika masih
duduk di teras saat maghrib akan mendatangkan penyakit yang konon disebut
dengan “angin duduk”. Ada pula yang mengatakan anak kecil tidak boleh berada di
luar rumah disaat waktu maghrib karena kepercayaannya anak itu akan diculik
“genduruwo”. Dan sampai sekarang masyarakat sekitar masih terus mempercayainya.
· Melaksanakan
nujuh bulan. Masyarakat sekitar menganggap ketika
seorang ibu hamil sedang mengandung anak yang berumur tujuh bulan dalam
kandungan, maka ia harus melaksanakan adat “nujuh bulan”. Adat dimana melakukan
semacam pengajian untuk mensyukuri janin yang telah dikandung sudah menjadi
daging. Padahal jaman dahulu nujuh bulan itu dimana seorang ibu hamil yang
melaksanakan pengajian ketika janin yang dikandung berumur empat bulan dalam
kandungan, dan pada saat janin berusia empat bulan tersebut diartikan bahwa
janin yang dikandung telah ditiupkan ruh nya. Maka dari itu mereka melaksanakan
semacam syukuran.
· Merayakan
tahun baru dengan acara bakar-bakar ayam atau ikan, dengan
petasan, atau pergi jauh untuk mencari keramaian perayaan tahun baru diluar.
Tradisi ini masih berlanjut hingga sekarang, terutama bagi kalangan kaum muda, dimana
mereka masih ingin hura-hura dan ingin mencari suasana baru saat pergantian
malam tahun baru tanpa memikirkan akibatnya. Efek positif mungkin mereka
mendapatkan kesenangan tersendiri saat ada perayaan tahun baru tetapi efek
samping atau negatifnya ialah terkadang tahun baru sering mendatangkan bencana
kecelakaan, karena terlalu padatnya jalan raya. Kaum muda jarang yang berfikir
saat tahun baru lebih baik dirumah atau istiqomah dimasjid untuk bersyukur dan
berdoa agar kedepannya harus lebih baik lagi.
· Melaksanakan
gotong royong. Warga masyarakat disekitar rumah saya
juga masih sering melakukan kegiatan gotong royong yang dilaksanakan pada hari
libur atau hari minggu, mulai dari membersihkan kali, selokan, perbaikan jalan
yang rusak, sampai pembangunan masjid yang masih terus dilakukan sampai saat
ini. Dengan begini lingkungan sekitar juga menjadi baik lagi dan bisa
mempererat tali persaudaraan sesama warga.
·
Mengantar
makanan ke tetangga menjelang hari raya idul fitri.
Di lingkungan tempat tinggal saya, kebiasaan ini masih terus berlangsung setiap
tahun saat menjelang hari raya. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan mempererat
tali persaudaraan antar tetangga.
· Bersilaturahmi
ke tempat sanak saudara saat hari raya. Ada yang berkeliling
di area tempat tinggalnya saja bahkan ada yang pulang ke kampung masing-masing
untuk menjalin tali silaturahmi dengan saudara-saudaranya di kampung.
· Mengadakan
acara selametan atau syukuran. Hal ini biasanya
dilakukan ketika ingin naik haji, umrah, ataupun setelah mengadakan acara
pernikahan. Ditujukan untuk mensyukuri bisa naik haji, umrah, ataupun menikah.
Itulah kebudayaan yang terdapat di lingkungan tempat
tinggal saya. Kebudayaan itu sampai sekarang masih terus berlangsung dan
dijadikan sebagai tradisi bahkan keharusan.
Referensi :
http://budimuktidewanto.blogspot.co.id/2012/03/kebudayaan-yang-sudah-mengakar-di.html
Referensi :
http://budimuktidewanto.blogspot.co.id/2012/03/kebudayaan-yang-sudah-mengakar-di.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar